Thanx buat yang dah ngadain nih anonim3b.
Aku mau cerita. Syukur kalau ada yang menanggapi.
Aku sekarang merasakan keresahan yang entahlah.
Aku hidup di tengah keluargaku dengan pandangan mereka terhadapku :
Aku yang paling berprestasi di antara keluargaku
Aku mempunyai ilmu agama yang lebih di antara semua keluargaku.(bukan berarti keluargaku tidak tau agama ataupun keluarga alim)
Aku mewarisi semua keunggulan yang ada pada orang tuaku.dan juga beberapa kelemahannya.
Like father like son, itulah yang selalu diucapkan keluargaku terhadapku.
Aku selalu diidentikkan dengan almarhum ayahku yang selalu peduli dengan anggota keluarga lainnya.
Sekarang aku telah tamat dari stan, dan itu berarti bisa dikatakan aku adalah anak yang telah (sedikit) sukses dibanding saudara2ku.
Apalagi nanti jika aku telah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, tentu akan “lebih” lagi aku di mata keluargaku.
Di kampung, sepertinya hanya aku dan ibuku yang dikenal. Hanya aku yang lebih mendekat pada warga kampung.
Mungkin aku memang agak berbeda di banding saudara-saudaraku.
Seolah aku memang terlahir lebih “baik” dan lebih “positif” atau mungkin lebih “beruntung” dari mereka.
Aku memang lebih dekat dengan ibuku. Dan sifatku cenderung lebih halus. Berbeda dengan saudaraku yang lain.
Sekarang aku mempunyai perasaan dalam hati seperti ini :
SANGAT LEBIH BAIK jika kakakku tidak berada di rumah ini lagi.
Aku bosan ketika pulang ke rumah yang pasti ku dengar, paling tidak sehari sekali, pasti bentakan kakakku kepada ibuku. Memang terkadang ia bersikap lembut pada ibuku. Tapi itu paling cuma beberapa menit. Dan ia juga tidak terlalu tergantung masalah uang pada ibuku. Tapi tetap ia membutuhkan uang dari ibuku. Menurutku jika seorang ibu menggerutu merupakan sikap yang wajar, namun selalu dihadapinya dengan serius, dan balik berkata lantang di depannya, bahkan sampai ingin menghancurkan barang-barang di rumah. Membuat ibuku menangis?kurasa ibuku orang yang paling patut kutiru. Beliau mampu menutupi rasa sakitnya, tanpa menangis di depan kamidan selalu mencoba tersenyum. Mungkin jika aku adalah ibu, akan kering air mata ini. Pernah beberapa kali, dulu kulihat ia menangis.
Sekarang tak ada lagi yang bisa menghiburku ibuku selain anak-anaknya. Ayah telah lama tiada, nenekku baru beberapa bulan lalu meninggal. Dan aku, mungkin akan lama meninggalkannya.
Aku berada di bawah kakak yang menurutku tidak pantas di rumah ini. Selalu ada kata iya bagi teman-temannya, namun untuk keluarga selalu menjadi urusan ke sekian.
Aku telah sering menunda untuk menambah kemampuanku. Aku sengaja tidak belajar menyetir mobil, sehingga mobil di rumahku bisa dipakainya untuk mengantar ibu kemana ibu ingin pergi. Aku sengaja tidak membuat sim motor, agar motor yang selalu dipakainya bisa dipakainya untuk membantu keluarga. Tapi seolah tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menggunakan semua peninggalan ayah untuk membantu keluarga. Aku sengaja tidak mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang disuruh ibuku, agar mungkin dia akan mengambilalihnya.
Sifatnya yang keras dan ditambah latar bela diri yang diikutinya membuatnya seolah raja di rumah ini.
Aku sengaja tidak memahami berbagai hal, agar dengan harapan suatu hari ia akan berubah.
Aku lelah menjadi yang selalu diandalkan.
Adikku masih SMA. Beruntung dia sekarang sudah agak berubah. Karena dahulu ia termasuk agak susah bergaul. Karena peristiwa masa lalu.Dan sekarang mulai memahami sekitar. Aku hanya menaruh harapan padanya dan adikku satu lagi yang paling kecil. Aku hanya berharap mereka bisa menggantikanku sementara aku tidak berada disini.
Mungkin aku tidak terlalu lelah,, hanya saja aku merasa suatu saat aku membutuhkan pengganti di rumah ini.